ILMU BUDAYA DASAR
KELOMPOK 7, KONSEP KE 7
MANUSIA DAN KEGELISAHAN
Disusun oleh:
1. Adimas
Leo Firmansah (10118146)
2. Andrian
Senjaya (10118801)
3. M.
Aryo Wibisono (14118500)
Kelas 1KA12
S1 – Sistem Informasi
Fakultas Ilmu Komputer dan
Teknologi Informasi
Universitas Gunadarma
Jakarta
2019
KEGELISAHAN
A. Pengertian Kegelisahan
Kegelisahan
berasal dari kata “gelisah”. Gelisah artinya rasa yang tidak tentram di hati
atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang (tidurnya), tidak sabar lagi
(menanti), cemas dan sebagainya. Kegelisahan menggambarkan seseorang tidak
tentram hati maupun perbuatannya, artinya merasa gelisah, khawatir, cemas atau
takut dan jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan
bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut. Manusia suatu
saat dalam hidupnya akan mengalami kegelisahan. Kegelisahan yang cukup lama
akan menghilangkan kemampuan untuk merasa bahagia (Muhammad Syukri Albani
Nasution, 2015, p.168-169).
Manusia
selama ini seringkali tenggelam dalam kegelisahan. Berbagai penyebab
kegelisahan telah menyita waktu dan perhatian manusia, dan sayangnya banyak
yang tidak menyadari betapa mengganggunya kegelisahan itu. Kegelisahan yang
timbul dalam diri kita sebenarnya dibuat oleh kita sendiri, kita ciptakan
mereka di dalam pikiran kita melalui ketidakmampuan ataupun kegagalan untuk
mengerti bahaya perasaan keakuan dan melalui khayalan yang melambung serta
kesalahan dalam menilai setiap kejadian atau benda. Hanya jika kita dapat
melihat suatu kejadian atau benda dengan apa adanya, bahwa tidak ada sesuatu
apa pun yang kekal di dunia ini dan bahwa keakuan kita sendiri merupakan
khayalan liar yang membawa kekacauan dalam pikiran yang tidak terlatih.
Kegelisahan adalah suatu rasa tidak tenteram, tidak tenang, tidak sabar, rasa
khawatir/cemas pada manusia. Kegelisahan merupakan gejala universal yang ada
pada manusia manapun. Namun kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala
tingakah laku atau gerak – gerik seseorang dalam situasi tertentu. Jadi,
kegelisahan merupakan sesuatu yang unik sebagai manifestasi dari perasaan tidak
tenteram, khawatir, ataupun cemas (p.169)
B. Unsur Kegelisahan
1. Suatu
psikosis yang situasional
2. Suatu
gabungan dari unsur-unsur kegelisahan
3. Inhibsi
Adalah hambatan bagi otot-otot
dalam bekerja .
4. Terror
Adalah suatu kondisi takut yang
nyata, perasaan luar biasa akan bahaya yang mungkin terjadi .
5. Panik
Adalah
bingung, gugup, atau takut dengan mendadak (sehingga tidak dapat berpikir
dengan tenang) .
6. Anxietas
Anxietas
berasal dari bahasa Latin, angere, yang berarti tercekik atau tercekat.
Gangguan anxietas adalah keadaan tegang yang berlebihan atau tidak pada
tempatnya yang ditandai oleh perasaan khawatir, cemas, tidak menentu atau takut
C. Macam-Macam Kegelisahan
1. Kegelisahan
Positif
Kegelisahan
dalam arti yang baik digunakan sebagai kesadaran yang dapat menjadi spirit
dalam memecahkan banyak permasalahan, sebagai tanda peringatan, kehati-hatian
dan kewaspadaan terhadap bahaya-bahaya atau hal-hal yang datang secara tak
terduga. Ia juga merupakan kekuatan dalam menghadapi kondisi-kondisi baru dan
dapat membantu dalam beradaptasi. Singkatnya, ia merupakan faktor penting yang
dibutuhkan manusia.
2. Kegelisahan
Negatif
Kegelisahan yang
berlebih-lebihan atau yang melewati batas, yaitu kegelisahan yang berhenti pada
titik merasakan kelemahan, di mana orang yang mengalaminya sama sekali tidak
bisa melakukan perubahan positif atau langkah-langkah konkret untuk berubah
atau mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu kegelisahan dalam ‘menanti-nanti’
sesuatu yang tidak jelas atau tidak ada.
Sigmund Freud
membedakan kegelisahan menjadi tiga macam, yaitu :
1. Kegelisahan
Obyektif (Kenyataan)
Kegelisahan ini mirip dengan
kegelisahan terapan dan kegelisahan ini timbul akibat adanya pengaruh dari luar
atau lingkungan sekitar (Muhammad Syukri Albani Nasution, 2015, p.170).
2. Kegelisahan
Neurotik (Saraf)
Kegelisahan ini berhubungan dengan
sistem syaraf. Syaraf-syaraf yang bekerja secara alami ketika tubuh merasa
terancam atau mengetahui akan ada suatu hal berbahaya yang akan terjadi. Tubuh
tidak diperintahkan untuk melakukannya. Singkatnya kegelisahan ini ditimbulkan
oleh suatu pengamatan tentang bahaya naluriah (p.171).
3. Kegelisahan
Moral
Kegelisahan
ini mucul dari dalam diri sendiri. Sebagian besar karena rasa bersalah atau malu
dalam ego yang ditimbulkan oleh suatu pengamatan bahaya dari hati nurani. Hal
ini timbul karena pada dasarnya setiap manusia mempunyai hari nurani dan sadar
atau tidak mereka tahu mana hal yang benar dan mana yang salah. Walaupun mereka
melakukan kejahatan, setiap orang pastilah tahu hal yang dilakukannya itu
adalah salah. Keadaan mungkin yang memaksa mereka melakukannya. Jadi, mereka
tetap mempunyai rasa bersalah dan mengalami kegelisahan moral itu (p.171).
D. Penyebab Kegelisahan
1. Faktor
kegelisahan dari dalam diri seseorang antara lain:
a. Cinta
Diri.
Kecintaan seseorang terhadap
dirinya merupakan hal yang wajar, namun sebagian orang telah berlebihan dalam
mempertahankan cinta tersebut, sehingga terbebani dengan berbagai macam
penderitaan dan rasa sakit. Dalam pembahasan ini, yang dimaksud cinta diri
adalah kecintaan melampaui batas, perhatian berlebihan terhadap diri sendiri,
dan sangat sensitif terhadap segala hal yang berkaitan dengan itu, sehingga ia
tidak mendapati musibah yang lebih parah dari penyakit tersebut.
Ya perhatian yang berlebihan
terhadap diri akan menyebabkan munculnya keinginan buruk dalam diri seseorang,
seperti ingin meraih kecintaan dari semua manusia, mengharapkan kehadiran
mereka dengan patuh dan mau melaksanakan perintahnya secara keseluruhan demi
memperoleh kerelaannya (Muhammad Syukri
Albani Nasution, 2015, p.171-172).
b. Lalai
dalam Mengingat Allah.
Dalam beberapa hadits dan riwayat
Shahih disebutkan bahwa was-was dalam keadaan tertentu akan muncul sebagai
akibat kelalaian seseorang dalam mengingat Allah, berpaling dari (mencari) hikmah-Nya,
dan mengentengkan perintah dan larangan-Nya. Terkadang was-was juga akan muncul
dari setan yang telah mengguncangkan
jiwanya.
Ya, orang yang hatinya bersih dan
yakin kepada Allah tidak akan terkena penyakit ini, kecuali bila menderita
cacat atau penyakit tertentu. Dari sudut pandang agama, mengingat Allah ibarat
benteng kuat dan baju besi yang melindungi manusia dari berbagai macam bahaya,
seperti penyakit kejiwaan. Sebagaimana, kita juga dapat menjadikannya sebagai
pijakan dalam proses pengobatannya. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa was-was
bisa muncul sebagai akibat perbuatan haram dan mungkar, sebaliknya mencari
perlindungan Allah dapat mencegah seseorang dari dampak negatifnya (p.172).
c. Gejolak
Hati.
Terkadang was-was muncul dalam
keadaan tertentu lantaran kegalauan hati yang sangat keras akan hal-hal yang
spele dan remeh. Ketika ia tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menyibukkan
dirinya, ia akan memikirkan problem dan khayalan sia-sia, sehingga sering kali
hal itu menyeretnya kedalam kubangan was-was.
Karena itu, ketika seorang anak
kecil megotori badannya, maka ia akan segera melawan guncangan jiwa lantaran
takut akan hukuman ibunya dengan cara mencuci kotoran tersebut berulang kali. Dan,
pengulangan itu memberikan kemungkinan bagi muncul dan tertanamnya pemikiran
yang bersifat was-was tersebut. Sebagian orang berkeyakinan bahwa pemikiran
yang disertai perasaan was-was sebenarnya merupakan sejenis kegelisahan yang
timbul dari penyakit kejiwaan yang dapat disembuhkan dengan mudah (p.173).
d. Rasa
Takut dan Malu.
Mungkin, sifat malu merupakan salah
satu diantara faktor penyebab was-was, sebab seorang pemalu adalah orang yang
takut berdiam diri dan inilah yang mengharuskan kita membahas tentang sebab-sebabnya
pada anak-anak.
Karena itu, mereka yang pada masa
kecilnya telah mendapatkan pelecehan dan perlakuan keras, pada masa dewasanya
tidak akan mampu menghadapi problem yang sangat besar dan menyelesaikannya
secara benar. Ini menunjukkan bahwa seorang pemalu akan berusaha dengan
berbagai macam cara untuk melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya agar
tidak menjadi bahan penilaian dan cemoohan orang lain. Inilah yang mendorongnya
melakukan pekerjaan secara berulang agar dapat menyelesaikannya sebaik mungkin,
yang pada akhirnya menjerumuskannya kedalam was-was (p.173).
e. Tidak
Merasa Aman.
Dalam keadaan tertentu, perasaan
tidak aman merupakan faktor penyebab terjadinya was-was. Dengan kata lain,
sebagian orang akan menderita was-was lantaran dirinya merasakan tidak adanya
keamanan. Terkadang, perasaan semacam ini merupakan akibat dari lemahnya
kepribadian dan tidak adanya kemampuan dalam mengendalikan diri. Tidak diragukan lagi bahwa benturan
kejiwaan yang datang secara tiba-tiba pada diri seseorang akan mendorong
munculnya perasaan tidak aman dalam diri , yang kemudian akan menyebabkan
tertimpa was-was. Sebagaimana, tekanan jiwa akan menghilangkan perasaan aman
dalam pikiran seseorang. Ini juga merupakan penyebab lemahnya kepribadian dan
menjadikannya sebagai sasaran empuk bagi penyakit was-was (p.174).
f. Jiwa
yang Lemah.
Kelemahan jiwa dalam diri seseorang
dapat mencapai suatu taraf dimana ia sendiri kehilangan kekuatan untuk
mengendalikannya, sehingga kita mendapatinya dengan terpaksa menyerah dihadapan
kejadian-kejadian yang dialaminya. Ketika ia menampakkan keinginan agar seluruh
pekerjaannya sebanding dengan orang yang lebih utama darinya, maka perasaan ini
akan berubah kedalam bentuk perasaan lemah (p.174).
2. Faktor
kegelisahan dari luar diri seseorang antara lain:
a. Kemasyarakatan.
Terkadang, dalam beberapa keadaan,
was-was diakibatkan oleh faktor sosial dimana kita dapat melihat sebagian
gejalanya ketika seseorang melakukan suatu perbuatan yang sama dengan orang
lain dan selalu mengikutinya. Namun kasus ini berbeda dengan dimana anak-anak
mewarisinya dari ayah atau ibunya. Dengan kata lain, mengikuti perilaku orang
lain dan taklid terhadap kelakuan mereka yang salah serta berteman dengan
segala penderita penyakit tersebut akan menyebabkan terjadinya kontradiksi yang
dibencinya dan membantu proses transfer penyakit tersebut dari satu orang
kepada orang lain (Muhammad Syukri Albani Nasution, 2015, p.174-175).
E. Dampak Kegelisahan
1. Positif
a. Manusia
bisa lebih terdorong untuk mencari kesempurnaan
b. Menjadi
lebih kreatif dan produktif
2. Negatif
a. Penyesalan
karena tidak bahagia
b. Sikap
kecewa
c. Putus
asa
d. Bunuh
diri
e. Kehilangan
harga diri atau martabat
f. Hilangnya
nama baik di masyarakat
g. Hilangnya
kepercayaan maupun jabatan
F. Contoh Kegelisahan
1. Arni
gadis lincah, bebas, dan pandai bergaul. Kawannya banyak dan hilir mudik
bergantian datang dan mengajak pergi. Pada suatu hari tersiar berita ia
mendapat “kecelakaan”. Sejak itu ia tidak pernah menampakkan diri dan tak ada
kawan yang hilir mudik datang berkunjung dan mengajak pergi. Ia menyembunyikan
diri di kamar, malu keluar. Ia hidup dalam keterasingan.
2. Aryo
tidak mau bergaul lagi dengan kawan-kawannya, hidup menyendiri, karena malu
atas perbuatannya yang melanggar moral
3. Chalif
yang merasa berpendidikan rendah, tidak mau bercakap-cakap dengan tamu dalam pertemuan
itu. Apalagi tamu-tamu itu sebentar-sebentar mempergunakan bahasa asing yang
belum pernah didengarkannya. Ia merasa makin takut meskipun pakiannya tidak
kalah dengan mereka karena pendidikan dan pengalamannya jauh lebih rendah dari
mereka. Karena itu ia menghindarkan diri dan menyendiri saja.
4. Selama
ini Tn. Adi terkenal sebagai orang terhormat. Semua penduduk di wilayahnya
mengenal siapa Tn. Adi, pegawai tinggi suatu instansi, ramah, dan dermawan.
Tiba-tiba tersiar berita di koran bahwa Tn. Adi tersangkut korupsi milyaran.
Dengan adanya berita itu, Tn. Adi tidak pernah keluar, apalagi bergaul. Setiap
ada undangan tidak pernah datang. Ia mengurung diri di rumah, hidup dalam
keterasingan.
5. Dimas
mempunyai sifat pemarah, sebentar-bentar menantang orang dan mengajaknya
berkelahi. Ia menganggap lawannya pasti kalah. Ia tak kenal istilah musyawarah,
akibatnya semua teman-temannya perlahan-lahan menjauhinya, sehingga ia terasing
dari pergaulan.
6. Seorang
pedagang yang maju pesat, pada suatu saat berpikir olehnya ada kswan yang ingin
menjatuhkannya. Pikirannya itu semakin menjadi-jadi, apalagi setelah ia
mengalami kerugian.
7. Setelah
terungkap permasalahan korupsi di tubuh KPU, banyak pihak yang terkait merasa
gelisah.
8. Kegelisahan
para peserta Indonesia Mencari Bakat ketika akan mengetahui siapa yang harus
pulang pada malam mereka tampil dan kegelisahan murid-murid sekolah ketika
menunggu hasil ujian akhir.
9. Tini
seorang ibu muda, mempunyai anak berumur dua tahun, Tina namanya. Tina tumbuh
sehat, montok, lucu, lincah, dan sangat akrab dengan ibunya. Hampir seluruh
waktu Tini tercurahkan untuk Tina. Ia keluar kerja demi Tina, anak yang baru
seorang itu. Sekonyong-konyong Tina sakit ; muntah-muntah disertai buang air.
Tini bingung, anaknya segera dibawa kerumah sakit. Kata dokter, Tina harus
dirawat di rumah sakit dan tidak boleh ditunggui. Tina menangis terus, tetapi
ibunya harus meninggalkannya. Tini gelisah, cemas, khawatir, memikirkan nasib
anaknya. Pada contoh tersebut jelas bagi kita, bahwa kegelisahan yang diderita
oleh ibu Tini adalah karena adanya bahaya dari luar yang mengancam anaknya.
G. Solusi
1. Dengan
memerlukan sedikit pemikiran yaitu, pertama kita menanyakan pada diri kita
sendiri (instropeksi),akibat yang paling buruk yang bagaimanakah yang akan kita
tanggung atau yang akan terjadi,mengapa hal itu terjadi,apa penyebabnya dan
sebagainya (Muhammad Syukri Albani Nasution, 2015, p.175).
2. Kita
bersedia menerima sesuatu yang terjadi pada diri kita dengan rasa tabah dan
senang hati niscaya kecemasan tersebut akan sirna dari jiwa kita. Bersamaan
berjalannya waktu kita dapat mencoba untuk memperkecil dan mengurangi
keburukan-keburukan akibat timbulnya kecemasan tersebut dalam jiwa kita (p.175).
3. Berdoa
kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh sabar,tabah,senang dan ikhlas sehingga Ia
mau mengabulkan permohonan kita dari perasaan kecemasan ini,sebab Tuhan adalah
yang paling Maha Pemurah,Maha Pengampun,Maha Pengasih dan Maha Penyayang bagi
umatnya yang mau berdoa dan memohon kepadaNya (p.175).
H. OPINI
Kegelisahan
sebenarnya bisa diatasi tetapi terkadang manusia sulit untuk mengatasinya.
Kegelisahan dapat di lawan dengan ketenangan, tetapi itu sulit diatasi
oleh manusia. Dalam keadaan tertekan manusia sering mengalami kegelisahan.
Kegelisahan selalu menyelimuti manusia. Salah satu cobaan pada diri
manusia adalah kegelisahan dan bedanya kegelisahan ini dengan cobaan yang lain
adalah kita dapat merasakannya walaupun tak ada yang menyakiti kita.
Kegelisahan dapat terjadi saat diri kita berada dalam situasi ketidakpastian,
kesepian, ataupun keterasingan. Bahkan kita tidak mengetahui penyebab kita
gelisah. dan memang hidup itu penuh misteri. Manusia tidak akan pernah terlepas
dari hal semacam kegelisahan yang menjadi misteri hidup selama manusia hidup
Daftar
Pustaka
Nasution, Muhammad Syukri Albana. 2015. Ilmu Sosial Budaya Dasar. PT Raja Grafindo
Persada.
Hairunnaja, Najmudin. 2007. Psikologi Ketenangan Hati. PTS Litera
Utama Jiwa.
Pudiastuti, Ratna Dewi. 2015. Meretas Badai Lebih Sehat Jika Menulis.
Elex Media Komputindo.
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar